kahasiat sesunguhnya dari soman menurut BPOM

nah, karena memang ada salah satu pihak yang tersingung dengan tulisan saya (baca = terkozel kozel) mengenai masalah soman ini, tentunya dengan bijak saya akan menulis ulang / rewrite, berdasarkan brosur atau promosi yang kata mereka “terbaru” dan semua dasarnya tetep dengan menurut klaim BPOM, dan kesaksian kesaksian alias testimonial saya anggap tetap tidak relevan untuk membuktikan khasiat, jadi ini murni hasil dari BPOM sendiri, di samping itu saya juga akan menjelaskan mengenai uji pra klinis yang di gembor gemborkan sebagai pembenaran atas khasiat suatu produk, saya juga akan mencoba membuat suatu artikel yang sesuai kaidah klaim khasiat yang di tentukan BPOM, segala bentuk yang berbau promosi saya coba jelaskan dengan jelas sesuai kenyataan yang sesuai. nah loh. tentu saja bahan jurnal jurnal akan saya coba masukan untuk membuat para salles terkozel kozel dengan overclaimnya, tetapi jika ada yang benar tentu saja akan saya sampaikan dengan benar

screen-shot-2016-10-20-at-08-40-46

mengenai artikel yang menyebut bahwa “soman menipu”, sepertinya saya sedikit salah, salah disini bukan sepenuhnya salah, karena pihak soman sendiri ngeles kalau brosurnya yang dipake sudah invailid, dan heranya tidak ada tindakan untuk menepis ketidak validan brosur tadi di web web promosi soman seperti di sini dan si situ serta situ, justru mereka sibuk dengan web saya ini sampe terkozel kozel menuduh kalau saya menyebut soman sebagai MLM, padahal tidak ada satupun sebutan MLM, nah maka dari itu artikel ini akan merevisi sekaligus menjelaskan apa itu soman menurut BPOM. yah padahal penarikan brosur yang invalid itu tugas perusahaan, tetapi saya malah yang menjelaskanya, karena jika ada brosur lama akan merugikan para pelangan dan pembeli yang terpedaya dengan klaim yang tidak sesuai dengan klaim BPOM, seperti salah satunya soman untuk menyembuhkan diabetes. walau asalnya mungkin dari sales sales tadi. mari kita simak saza.

soman sendiri menurut BPOM dengan nomor registrasi TR 083 667 66 terdaftar sebagai produk tradisional, lalu klaim tentang menyembuhkan berbagai macam penyakit itu semua “tidak benar adanya” yah itu yang di katakan oleh BPOM, silakan kroscek sendiri, dan jangan terkozel kozel, karena klaim yang di perbolehkan oleh BPOM adalah hanya untuk “MEMBANTU MENJAGA DAYA TAHAN TUBUH” yah kalau di analogikan ada tentara menjaga perbatasan, ini ada bantuan berupa anak pramuka, memberikan logistic, memijat tentara tadi, sehingga kegiatan tentara menjaga negara menjadi optimal, tetapi saat ada serangan ya anak pramuka ini gak bisa membantu membela, jadi klaim yang sesungguhnya dari soman adalah membantu menjaga daya tahan tubuh. udah gak usah di debat, itu dari BPOM, monggo di tanyain saza ke BPOMnya langsung

dan sukurnya katanya, brosur terbaru soman tidak menampilkan overclaim lagi (sesuai dengan kaidah BPOM) dan saya sendiri meminta brosur terbaru, tetapi ternyata tidak di berikan, tapi ya sudah percaya saja, tetapi jika sudah overclaim ya itu tanggung jawab si salles yah. soalnya nanti managernya mencak mencak. pokoke salah brosur lawas. ngoahahhaha.

screen-shot-2016-10-20-at-07-33-28

klaim uji praklinis

wah, ini adalah topik menarik, dengan tendeng alih uji praklinis sepertinya banyak salles kebelinger ini merasa bahwasanya produk tersebut sangat berkahasiat, sudah terbukti benar, padahal tahapan untuk suatu produk menjadi obat dan bisa di klaim “benar adanya” untuk menyembuhkan suatu penyakit, atau malah segala penyakit tentunya zat tadi harus lolos “uji praklinis” dan ” uji klinis” nah yang bilang ini adalah WHO loh, WHO bukan yang berarti siapa dalam kamus bahasa ingris, tetapi organisasi kesehatan dunia yang di akui PBB, jadi jika suatu zat hendak diakui sebagai “OBAT yang terbukti menyembuhkan” baik itu untuk hewan (hewan aja disebut) apa lagi “MANUSIA” harus memenuhi standart “UJI PRAKLINIK” DAN “UJI KLINIK” uji praklinik itu untuk mengetahui kadar toksisitas dan kadar aktivitas suatu zat, dimana toksisitas itu adalah apakah produk itu tersebut beracun atau tidak, jika tidak maka akan lolos uji toksisitas praklinik. dan jika memiliki manfaat / zat aktiv (termasuk di dalamnya seperti vitamin, mineral, dan sejenisnya) yang terbukti secara real beneran ada atau tidak. baik uji toksisitas maupun aktivitas mereka mengadakan uji in vivo dan in vitro

apa itu uji in vivo dan in vitro? uji in vivo itu intinya sediaan contonya jamu tetes khas dewa, di cek pada media tertentu, di lab tertentu, dan di lihat hasilnya, nah jika lulus uji invivo tidak bisa dikatakan obyek tersebut sebagai obat, apa lagi obat dewa, harus ada uji in vitro dimana di coba ke hewan percobaan, seperti kelinci, tikus, monyet, dan sebagainya yang jelas hewan di sini bukan manusia.

uji klinis

walaupun si soman sampe saat ini belum ada uji kliniknya yang di jelaskan secara lengkap fase berapa, tetapi kita bahas saza, biar yang baca mudeng apa itu uji klinis, uji klinis ini di laksanakan setelah uji praklinis selesai, jadi setelah uji praklinis selesai, uji klinis boleh di ujikan, gak ada ceritanya zat jadi obat dewa dengan modal uji praklinis doank, dan jujur saja “uji klinis” ini termasuk uji yang sangat sulit untuk lolos,karena selain waktu dan tahapan, independensinya membuat banyak lembaga berpikir ulang, tetapi ya itu harus di lakukan, nah apa lagi di uji klinis ini ada 4 fase, mari kita bahas

uji klinis fase 1

uji klinis untuk manusia pertama kalinya, yang secara resmi di gelar, syaratnya adalah manusia yang di coba harus sukarelawan yang sehat. ingat yang “sehat” bukan yang “sakit“. jadi jika anda sakit di beri yang katanya obat yang baru lulus uji praklinis, anda tidak sedang menjadi sukarelawan uji klinis tahap 1.

tujuanya di uji klinis fase 1 adalah untuk menilai “keamananya” jadi yang di nilai itu keamananya, bukan efektifitasnya, jadi saat di coba akan di lihat apakah aman di gunakan oleh manusia atau tidak. lho bukanya sudah lolos uji toksisitas? berarti tidak terbukti beracun donk? ya tidak ada toksik di kandungan zat bukan berarti obat tersebut aman, justru tujuan fase 1 ini adalah tujuan yang “mulia” dimana tujuanya untuk menentukan “BESARNYA DOSIS TUNGGAL YANG DAPAT DI TERIMA TUBUH“. apa itu dosis tunggal? silakan tanya mbah google. nah, dosis ini bisananya di berikan dengan jumblah sedikit dan akan di tambah hingga dosis zat tadi mendapatkan efek farmakologik atau timbul efek yang tidak di inginkan, seperti pusing, mual, muntah, tetapi tidak perlu sampe si suka relawan ini meninggal dunia. ngoahhaha

nah untuk mencari efek tosik yang spesifik si sukarelawan ini harus di pantau dengan banyak pemeriksaan seperti, hematologi, faal hati, urin rutin, bahkan pemeriksaan lain yang lebih spesifik (tau kan alesanya obat itu mahal, kalo belum di uji udah mahal ya sudah artinya ada hal lain)

uji klinis fase 2

ini baru zat tadi di cobakan pertama kalinya pada penderita penyakit yang kelak akan di obati dengan zat yang menjadi calon obat, jadi kalo klaim segala penyakit harus di cobakan satu satu bray. gak cuma orang sakit minum obat, testimonial sembuh, bukan begitu caranya bray. tujuanya uji klinik fase 2 ini adalah untuk membuktikan efek pada fase 1 ini berguna atau tidak untuk pengobatan. dan hebatnya fase 2 ini harus “DI KERJAKAN OLEH PARA AHLI” yang diawasi oleh panitia kode etik lokal, jadi gak asal tabrak tabrak loh guys. dan protokol protokol ini harus diawasi sangat ketat dan independent, dan paling penting si penderita ini harus di monitor secara intensif, bukan dateng dan pergi kaya curhat mama dedeh gan. apa lagi kaya talkshow bukan empat mata, wah jauh guys

praktek uji klinis fase 2 ini belum membuktikan khasiat obat loh gan, karena memang belum bisa di ambil kesimpulan menganai faktor faktor yang mempengaruhi hasil pengobatan. seperti perjalanan klinik penyakit, keparahan, dan efek palcebo, dan banyak hal lain, yang saya rasa salles gak ngerti.

nah, untuk membuktikan si zat ini menjadi obat maka perlu ada uji klinik komparatif yang membandingkan zat tadi dengan palcebo, apakah obat ini adalah beneran berkhasiat atau hanya sugesti saza. uji ini di lakukan di akhir fase 2 dan awal fase 3

uji klinis fase 3

nah tujuanya sebenernya sama dengan fase 2, tetapi di tegaskan sekali lagi apakah zat tadi apakah obat baru benar benar berkahasiat? dan mengetahui posisi zat ini di bandingkan dengan obat standart. dan ini akan menjawab pertanyaan pertanyaan ilmiyah seperti

  1. efeknya jika di berikan secara luas oleh dokter yang bahkan “KURANG AHLI” (nah loh dokter kurang ahli saja di strick segini, padahal sekolah tahunan, kalo orang gak jelas pendidikan medisnya terus menyarankan gimana yah?)
  2. mencari efek samping yang belum terlihat di fase ii (jangan sembarangan jeplak obat herbal tanpa efek samping, belum ada jaminanya itu, justru harus kita cermati bahwasanya setiap zat aktiv pasti memiliki efek, baik efek positif maupun efek negatif)
  3. dampak pada penderita yang tidak di seleksi ketat

pada fase 3 ini biasanya zat tadi di bandingkan dengan palcebo, obat yang sama dengan dosis yang berbeda, obat standart dengan dosis ekuiefektif, atau obat lain dengan dosis yang ekuiefektif. pengujianya “ACAK” dan “TERSAMAR GANDA”. FYI uji ini paling sedikit harus melibatkan 500 orang.

uji klinis fase 4

bisa di bilang sebagai post marketing drug surveillance. merupakan pengamatan obat yang di jual di pasarkan. tujuanya ya menentukan pola penggunaan obat dan pola efektifitas serta “KEAMANAN YANG SEBENARNYA” pada uji klinis fase 4 ini di amati

  1. efek samping yang frekuensinya rendah dan terjadi setelah bertahun tahun
  2. efektifitas obat penderita berpenyakit berat atau berpenyakit ganda, pada anak dan lansia, setelah penggunaan jangka panjang
  3. penggunaan yang berlebihan , penyalahgunaan dan lain lain

nah itu tadi bahasan mengenai uji kliniknya. jadi jangan ngaku obat, apa lagi memberi kesaksian dewa sebelum lolos uji klinik,

kandungan soman?

kalo kandungan sendiri saya sudah tulis mengandung vitamin, mineral dan lain lain, intinya kandunganya ada, cuma berapa persen AKGnya ya saya tidak tahu dan tidak di beri tahu, jadi untuk ini ya tanyakan sama sallesnya, kalo cuma jawab tinggi dan bermanfaat mending tanya cs di websitenya, kalo template nanti ya jadi derita anda, awas maeketingnya galak. tau tau niat tanya di tuduh menjatuhkan loh gan

screen-shot-2016-10-20-at-07-33-24

kesimpulan

paling penting dan wajib di jabarkan lah

  1. soman terdaftar di BPOM
  2. soman bukan MLM loh guys (takut ada yang terkozel kozel asal jeplak)
  3. soman terdaftar serfifikat halal MUI (bukan majelis unyu loh, tapi majelis ulama indonesia)
  4. klaim yang di perbolehkan oleh BPOM adalah membantu memelihara daya tahan tubuh (sesuai dengan screenshoot diatas)
  5. soman sudah lulus uji praklinis loh guys(ada penjelasan adventorial di kompasnia), kalopun mereka klaim masalah uji klinis, masih di pertanyakan uji klinis fase berapa ya saya belum tau, tapi kalo lolos biasanya naik grade dari tradisional ke OHT (obat herbal terstandart) dan jika terbukti bisa menyembuhkan satu jenis atau beberapa jenis penyakit ya artinya akan naik kelas ke fitofarmaka, 
  6. segala klaim yang melebihi batas / overclaim itu di luar tanggung jawab BPOM dan SOMAN itu sendiri guys, yang salah sallesnya, sama yang ngasih tau, jadi bisik bisik guys
  7. brosur lama tidak valid.
  8. brosur lama sudah di ganti dengan yang baru
  9. brosur baru tidak menampilkan klaim berlebihan karena sesuai kaidah BPOM
  10. jika ada karyawan / salles yang menjelaskan khasiat soman menurut BPOM itu benar adanya, tetapi jika ada yang melebihi batas, ya monggo di tafsirkan sendiri saja, cuma yang bikin saya heran sih kenapa dengan IP sama, yang nyebutin khasiat soman menurut BPOM tapi masih nyaru sebagai orang lain dan mengatakan kalau pamanya sembuh, dia sembuh, dsb, padahal kata mereka khasiat sebenarnya sudah jelas sesuai BPOM membantu memelihara daya tahan tubuh 
  11. kesimpulan di tangan anda, BPOM sudah menjelaskan, dan anda sudah tau versi BPOM. dan tentunya versi soman resmi sejalan dengan BPOM, jadi jangan mau di bohongi sama brosur kadaluarsa dan salles soman yang tidak sesuai jalur semestinya (klaim menurut BPOM)
  12. segala overclaim yang berujung pada kekecewaan silakan di bicarakan dengan sallesnya saza. jangan protes ke webnya, apa lagi di muat di blog, nanti buzzernya ngamuk ngoahahhaha
  13. di tulis oktober 2016, jadi kalo sudah berubah gak usah terkozel kozel lagi, ngoahahah

 

last, bagaimana kalo kita bermain analogi sederhana saja, kalo orang yang sudah tobat dari ngaku ngaku terbang, dan dahulunya dia ngaku bisa terbang padahal cuma bisa lompat, kemudian poster pamer bisa terbang masih ada dan belum di tarik, malah orang yang mencerahkan tentang ketidak benaran poster tersebut di cerewetin. bukanya berterimakasih malah sibuk menyalahkan si orang yang menjelaskan poster tersebut, sementara penyebar posternya di diamkan, nah bisa simpulkan sendiri sama ente, awas salles kalap dan galak. ngoahahhahaha

 

 

7 pemikiran pada “kahasiat sesunguhnya dari soman menurut BPOM

Berikan Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s